Kamis, 10 Mei 2012

IBN SI>NA> DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PERADABAN EROPA

A. PENDAHULUAN
Gema Martin menjelaskan, persaingan hegemoni politik dan ekonomi antara dunia Barat-Kristen abad pertengahan dan kekaisaran Arab-Isla>m ditafsirkan sebagai sebuah konfrontasi antar peradaban, yang menyebabkan kesadaran barat memahami Isla>m dengan permusuhan dan ketidak percayaan.[1] Benturan kebudayaan dewasa ini diakibatkan oleh kesalahpahaman tersebut. Teori ini memberikan sebuah penafsiran terhadap sejarah berdasarkan konfrontasi dan sebuah konsepsi etnosentris terhadap saling menghargai di antara berbagai kebudayaan.
Ketersinggungan kebudayaan ini, berdasarkan realitas historis, tidak bisa dinafikan. Ia terus bergulir sepanjang sejarah peradaban manusia. Keilmuan Isla>m yang muncul dan berkembang sehingga mencapai puncak keemasannya pada masa Abba>siyah telah memberikan kontribusi berharga bagi peradaban Eropa.
Asumsi ini bisa disesuaikan dengan pandangan barat-Kristen, yaitu Orientalisme yang dianggap telah menjadi awal eksistensi formalnya dengan keputusan Dewan Gereja Wina pada tahun 1312 M. untuk mengajarkan bahasa Arab, Yunani, Ibrani, dan Syria di Paris, Oxford dan sebagainya.[2] Dengan demikian, bisa dipahami bahwa obyek kajian mereka bukan hanya pada sisi ide lapangan kajian itu sendiri, yang dilandaskan pada unit geografis, budaya, linguistik dan etnik yang dinamakan “Timur”.
Dari kajian-kajian terhadap ilmu yang merupakan karya orang Arab-Isla>m itulah mereka mulai terbuka mata melihat berbagai keilmuan. Pada akhirnya, keilmuan itu mereka pelajari dengan penuh semangat dengan hasil yang cukup gemilang.
Kontribusi inilah yang akan menjadi kajian pada tulisan ini. Tetapi, karena tema itu terlalu luas, maka kajian hanya difokuskan pada kontribusi yang diberikan salah satu ilmuwan Muslim, yaitu Ibn Si>na> dengan berbagai karya monumentalnya yang telah dijadikan rujukan sampai abad ke-17 kemarin. Ada beberapa hal yang menjadi alasan pemilihan pemikiran Ibn Si>na> dalam tulisan ini, pertama, diantara sekian pemikir Muslim abad pertengahan yang memiliki pengaruh besar terhadap keilmuan dan peradaban Eropa adalah Ibn Si>na>. Ia merupakan ahli kesehatan, spesialis medis[3] dan juga ahli optik[4] muslim terkemuka. Pengaruhnya yang besar masih bisa dirasakan sampai sekarang. Karya-karyanya, seperti al-Qa>nu>n fi al-Thib menjadi referensi utama di Universitas-universitas Eropa sampai abad modern ini.
Kedua, selama ini yang seringkali diangkat dan dibahas oleh beberapa kalangan, termasuk umat Isla>m sendiri, adalah karya dan pemikiran Ibn Rusyd (yang paling banyak), sedangkan yang lainnya masih jarang, bahkan bisa dibilang tidak ada. Oleh karena itu, penulis coba mengangkat pemikir yang jarang menjadi perhatian, tapi urgensitas kontribusinya tidak kalah dengan pemikir yang lain. Bahkan bisa saja Ibn Si>na> adalah satu-satunya orang yang telah berjasa banyak dalam bidang kedokteran modern, terutama dunia Eropa. Dengan dilatari alasan tersebut penulis termotivasi untuk memilih Ibn Si>na>, dengan harapan hal ini menjadi awal yang indah untuk selanjutnya menarik penulis lainnya untuk meneliti.

B. PEMBAHASAN
1. Biografi Ibn Si>na>
Nama lengkap Ibn Si>na> adalah Abu> Ali> al-Husayn bin Abdulla>h bin Si>na>[5] atau yang secara umum dikenal dengan nama Ibn Si>na> atau Avicenna (bahasa latin) yang terdistorsi dari bahasa Hebrew Aven Sina) adalah seorang ensiklopedis, filosof, fisiologis, dokter, ahli matematika, astronomer dan sastrawan. Bahkan, dibeberapa tempat ia lebih terkenal sebagai sastrawan daripada seorang filosof. Dia adalah ilmuwan dan filosof muslim yang sangat terkenal dan salah seorang ilmuwan dan filosof muslim yang terbesar sepanjang masa. Diakui oleh semua orang bahwa pikirannya merepresentasikan puncak filsafat Arab. Dia dipanggil oleh orang Arab dengan sebutan al-Syaikh al-Rai>s.[6]
Dia lahir di Afsana, Bukha>ra>, Transoxiana (Persia Utara). Dia mengajar kedokteran dan filsafat di Isfahan, kemudian tinggal di Teheran. Dia adalah seorang dokter ternama, dimana mulai abad ke-12 sampai abad ke-17 bukunya dalam bidang pengobatan, al-Qa>nu>n fi> al-Thibb, menjadi rujukan di berbagai universitas Eropa.
Dia lebih menekankan pada rasionalitas dari pada keyakinan buta. Disinilah Ibn Si>na> banyak mendapat serangan dari kalangan muslim ortodoks. Bahkan, ia dituduh ateis.[7] Karena itu, ia lebih dikenal di dunia Barat dan Timur. Pengaruhnya di Barat karena buku-bukunya banyak diterjemahkan dalam bahasa Latin.
Ibn Si>na> menjadi sahabat dan orang dekat raja Samanid[8] dari Bukha>ra>, Nu>h ibn Mansu>r, karena keahliannya dalam pengobatan. Ketika raja itu terbaring dalam keadaan kritis di peraduannya, dan para tabib istana telah menyatakan tak sanggup berbuat apa-apa, Ibn Si>na> yang masih berusia 17 tahun dihadapkan ke kamar raja yang sedang sakit. Majelis orang-orang berpangkat, dokter-dokter ahli, cerdik-cendikiawan, dan para bangsawan istana kagum dengan kemampuan Ibn Si>na> tersebut. Dengan keberhasilannya menyembuhkan raja itu, ia mendapat kehormatan dan martabat tinggi di istana. Ia diberi hak istimewa menggunakan perpustakaan raja, yang dipandang sebagai anugerah tertinggi untuk pekerjaannya yang besar itu.[9]
Sejak saat itulah ia semakin tekun membaca buku, dan menulis pemikiran-pemikirannya. Buku pertamanya yang ditulis tentang masalah psikologi dipersembahkan untuk raja, dengan judul Hadiyah al-Rai>s al-Ami>r.[10]
Didorong oleh tenaga luar biasa untuk menyerap dan menguasai ilmu pengetahuan, ia dengan cepat menguasai bermacam-macam materi intelektual yang terdapat di perpustakaan kerajaan. Dari sanalah ia mulai berkarya. Sehingga muncul karya-karyanya yang monumental. “Saya pergi kesana,” tulis Ibn Si>na>, dan menemukan sejumlah kamar penuh dengan buku dikemas di dalam peti. Saya kemudian membaca katalogus para pengarang purba itu, dan mendapatkan semua yang saya inginkan. Saya banyak menemukan judul buku yang tidak diketahui orang, juga buku-buku yang belum pernah saya lihat selama ini,” katanya.[11]
Setelah ayahnya wafat, ia meninggalkan Bukha>ra> karena gangguan politik, dan tiba di kota Gorgan yang tercatat dengan kebudayaannya yang tinggi. Di Gorgia dia membuka praktek dokter, bergerak dalam bidang pendidikan, dan menulis buku. Disinilah ia bertemu dengan sahabat karib dan sekaligus muridnya, Abu> Uaid Jawaz Jami. Merasa kekurangan perlindungan dan apresiasi terhadap karya ilmiahnya, ia meninggalkan Gorgan dan pergi ke Rayy. Di sini ia diterima penguasa Dalamite, Majdul Dawlah. Ia hanya tinggal sebentar di Rayy, kemudian pindah ke Hamadan. Di Hamadan ia berdiam lebih lama, dan berhubungan baik dengan penguasa Sahamsud Dawlah, yang telah disembuhkan Ibn Si>na> dari penyakit perutnya. Di tempat Ibn Si>na> menyelesaikan karya monumentalnya di bidang kedokteran, al-Qa>nu>n fi> al-Tibb. Setelah itu ia pindah ke Isfahan, dan meneruskan tugasnya menulis karya-karyanya yang lain.
Banyak bepergian dan menghabiskan tenaganya pada keasyikan politik dan intelektual membuat kesehatannya menurun ia menderita sakit perut, dan berusaha mengatasinya, tapi gagal. Sehingga akhirnya ia wafat pada tahun 1037 M, dalam usia 57 tahun.[12]
Di antara karya di bidang filsafat Ibn Si>na> adalah al-Syifa>[13] dan al-Naja>t. Ia juga memiliki karya tentang etika. Ia menulis risalah tentang geometri, ilmu hisa>b dan musik. Ia mengemukakan beberapa hal baru dalam ilmu hisa>b dan menyangkal sejumlah teori yang dibuat oleh Euclid. Ia menulis dua buku tentang zoologi dan botani selama perjalanan ke Shaphur Khwast bersama pelindungnya, Alaud Dawlah. Selama perjalanan itu juga ia mengarang kitab al-Naja>t. Di Isfahan, ia menulis Danish Nami Alai, kita>b al-Insa>f, dan karya-karya tentang kesusasteraan dan leksikografi. Ia dianggap sebagai bapak ilmu geologi, mengingat bukunya yang tak ternilai perihal gunung, yang menjelaskan hal-ihwal kerak bumi, dan menguraikan penyebab gempa secara ilmiah.[14]

2. Kontribusi Ibn Si>na> Kepada Dunia Eropa
Negeri-negeri Eropa tersentak bangun oleh gaung para ilmuwan dan filosof muslim yang mengkaji ilmu-ilmu di masjid Savilla, Cordoba, Granada, dan lain-lainnya. Semangat yang dimiliki umat Isla>m sangat tinggi. Sehingga wajar kemudian pada akhirnya mereka mencapai tingkat keilmuan yang sangat tinggi. Sebagai implikasi langsung dari capaian itu, umat Isla>m pada akhirnya memiliki tingkat peradaban jauh diatas apa yang dicapai Eropa pada saat itu.
Semangat terus menggali dan mengkaji ilmu pengetahuan terus meningkat apalagi pada saat pemerintahan bani> Abba>siyah penghargaan terhadap ilmuwan sangat tinggi. Para khali>fah Abba>siyah cukup apresiatif dengan para peneliti dan pengkaji ilmu. Selain itu, lembaga penerjemahan dikalangan umat Isla>m mulai menjamur. Dari kegiatan penerjemahan yang demikian umat Isla>m banyak mengambil sumber keilmuan, terutama filsafat. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa abad. Sehingga kegemilangan yang terjadi pada masyarakat muslim ini membuat bangsa Eropa melirik dengan keberhasilan itu. Mereka ingin menimba banyak hal dari orang-orang Isla>m.
Keinginan itu, benar-benar direalisasikan. Banyak orang Eropa berbondong-bondong ke dunia Timur untuk belajar. Pelopor-pelopor barat yang belajar di sekolah-sekolah kita sangat mengagumi ilmu-ilmu itu. Mereka menyimaknya dalam suasana kebebasan yang tidak mereka alami di negeri asal mereka.
Pada saat para ilmuwan kita (Islam) berbicara dalam majelis-majelis keilmuan dan karangan-karangan mereka mengenai peredaran bumi dan keadaannya yang bulat, gerakan-gerakan bintang dan benda-benda langit, akal orang-orang Eropa masih dipenuhi khurafat dan takha>yul tentang kenyataan-kenyataan ini. Oleh karena itu, waktu itu di kalangan orang barat muncul gerakan penerjemah dari bahasa Arab ke bahasa Latin, dan mulailah buku-buku para ilmuwan muslim diajarkan di perguruan-perguruan tinggi barat.[15]
Buku-buku filsafat bahkan terus berlangsung penerjemahannya lebih banyak lagi. Bangsa barat belum pernah mengenal filsafat-filsafat Yunani kuna, kecuali melalui karangan dan terjemahan-terjemahan umat Isla>m. Sehingga pada abad XII di terjemahkanlah kitab al-Qa>nu>n fi> al-Tibb karya Ibn Si>na> mengenai kedokteran.[16] Dari sinilah orang barat mulai menekuni bidang keilmuan ini sehingga mereka mampu mengembangkannya lebih jauh lagi dengan tingkaian keberhasilan sebagaimana yang terlihat saat ini.
Keberhasilan itu, kalau mau jujur, akan ditemukan bahwa sumber pertama kali adalah berdasarkan pada karya-karya orang Isla>m. Disini yang menjadi fokus perhatian adalah Ibn Si>na> dengan karya-karyanya yang telah nyata memberikan kontribusi besar kepada dunia barat. Walaupun seringkali mereka berupaya menghindar dari realitas yang sebenarnya. Mereka tidak ingin disebut sebagai pengambil keilmuan dengan implikasi pengagungan terhadap dunia Isla>m. Karena selama ini, yang diinginkan mereka tetap menempati posisi superior dalam segala hal. Akhirnya, semua disiplin keilmuan yang ada dan berkembang saat ini merupakan sesuatu yang muncul dari diri orang barat secara intenal.
Pandangan-pandangan tersebut terus dipertahankan oleh sebagian bangsa barat secara subyektif. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan superioritas mereka dimata dunia. Disamping itu, masih ada sebagian ilmuwan memandang secara obyektif akan sumber referensi keilmuan yang ada saat ini. Mereka melihatnya berdasarkan pada realitas historis yang terjadi.
Banyak orang barat yang secara jujur mengakui bahwa pada abad-abd pertengahan, kita (kaum muslimi>n) adalah guru-guru bangsa Eropa selama tidak kurang dari enam ratus tahun. Hal itu bisa dilihat pada masa kegelapan di daerah Eropa. Mereka benar-benar tertidur dalam kebodohan. Ilmu pengetahuan hanya dimiliki oleh beberapa elit agama (baca: gereja). Kalangan agamawan ini mempunyai otoritas tersendiri untuk melakukan pengguliran wacana dalam segala hal. Sehingga, ia berimplikasi pada terkontaminasinya ilmu pengetahuan oleh persoalan teologis. Tidak ada ilmu pengetahuan yang secara bebas berbicara berdasarkan pada landasan pengetahuan secara murni.
Kondisi itu berlangsung dalam beberapa abad. Seakan ilmu pengetahuan tidak akan pernah lagi muncul sebagai pembuka mata umat manusia demi terciptanya tatanan sosial yang lebih bermakna. Baru setelah Isla>m datang dan memberikan tawaran-tawaran menarik untuk lebih aktif dan bebas dalam mengembangkan segala apa yang menjadi milik diri (belonging). Gustave Lebon mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab (Isla>m) terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi sumber satu-satunya bagi pengajaran di banyak perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Bahkan, dapat dikatakan bahwa pengaruh bangsa Arab dalam beberapa bidang ilmu seperi ilmu kedokteran masih berlanjut hingga sekarang. Buku-buku karangan Ibn Si>na> pada akhir abad yang lalu masih diajarkan di Montpellier.[17]
Sebagaimana Lebon, Humbold juga mengakui dengan jujur bagaimana Isla>m banyak memberikan sumbangan terhadap peradaban barat. Ia mengatakan: “Bangsa Arablah yang menciptakan apotek kimia. Dari merekalah datangnya wasiat-wasiat pertama yang sempurna yang dianut oleh sekolah Salermo sehingga tersebar di Eropa Selatan beberapa lama kemudian. Pengetahuan yang mereka peroleh sama sekali belum pernah dikenal oleh bangsa Yunani.[18]
Ibn Si>na>, raksasa intelektual terbesar dari abad pertengahan, dan salah seorang tokoh terbesar sepanjang zaman, adalah jenius yang mahir dalam berbagai bidang yang memengaruhi berbagai jalan pikiran. Ia seorang pembuat ensiklopedi terkemuka, dan memberikan sumbangan abadi di dunia kedokteran, filsafat, logika, okultasi, matematika, astronomi, musik, dan puisi. Ia seorang ahli filsafat rasional yang ulung, menemukan pelbagai hal tak ternilai diberbagai cabang ilmu pengetahuan, merangsang banyak penemuan di kemudian hari, dan menempatkan dirinya di antara bimasakti abadi para ilmuwan ulung dan pemikir dunia. Ia menduduki tempat penting bagaikan Ensiklopedi Universal.
Sumbangannya yang utama adalah di bidang pengobatan dan filsafat. Dia menulis paling tidak delapan risalat ilmu kedokteran lengkap, yang menempati kedudukan terkemuka dalam sejarah ilmu kedokteran abad pertengahan. Salah satu risalah itu membicarakan penyakit usus, yang merupakan spesialisasinya. Risalat lain memuat bab tentang kemungkinan gejala fisik yang luar biasa. Karya raksasanya, al-Qa>nu>n fi> al-Tibb, merupakan puncak dan mahakarya sistemtisasi Arab.
Dari abad ke-12 sampai abad ke-17, karya ini dipakai sebagai panduan utama ilmu kedokteran di Barat, dan masih sering dipakai di dunia Timur yang muslim. Dalam kata-kata DR. Osler, karya tersebut tetap merupakan “Kitab suci ilmu kedokteran yang masa berlakunya lebih lama ketimbang karya lain.”Kemasyhuran buku besar ini mungkin bisa diukur dari kenyataan bahwa selama 30 tahun terakhir abad ke-15, buku ini dicetak 16 kali, dan 20 kali pada abad ke-16 dalam berbagai bahasa Eropa.[19]
Pengaruh pemikiran-pemikiran Ibn Si>na> masih dirasakan sampai saat ini. Orang-orang Barat sadar bahwa pemikirannya banyak memberikan kontribusi kepada tingkat peradaban yang dicapai Barat. Dari karya-karya yang telah dihasilkan Ibn Si>na>, barat mengambil pelajaran berbagai hal. Dengan jasa-jasa itulah orang-orang Barat, yang mau obyektif mengakuinya, akan mengatakan bahwa Barat sebenarnya memang telah berhutang budi kepada Isla>m (baca: Ibn Si>na>). Sebagian penulis Eropa yang mau melakukan introspeksi secara obyektif mengakui kehebatan dari pemikiran dan karya Ibn Si>na>, “Mungkin belum ada karya kedokteran yang begitu banyak dipelajari seperti buku ini. Pengaruh Ibn Si>na> terhadap pengobatan Eropa sangat besar.”
Sir Jadu Nath Sircar, sejarawan terkemuka India, mempersembahkan puji-pujian kepada Ibn Si>na> dengan kata-kata: “Avicenna memiliki kecerdasan intelektual terbesar sepanjang abad pertengahan. ”Avicenna bertanggung jawab bagi terangkatnya ilmu kedokteran Isla>m sampai ke titik puncak, dan potret dirinya, bersama al-Ra>zi>, tetap menghiasi Balai Agung fakultas kedokteran Universitas Paris.
Karya filosofinya yang terkemuka ialah kitab al-Syifa> al-Naja>r dan Isha>ra>t. Bukunya, kita>b al-Syifa> yang mengandung pengetahuan tak terhingga tentang logika, fisika, dan metafisika, mempunyai pengaruh yang luas terhadap filsafat Barat dan Timur.
Ibn Si>na> melakukan klasifikasi ilmu berdasarkan materialisme. Berbeda dengan yang dilakukan Aristoteles. Ia mengakui kenyataan adanya “dunia luar”, dan menemukan hubungan antara waktu dan gerak. Menurut dia, waktu hanya bisa dipahami bila dihubungkan dengan gerak. Tidak ada gerak bila tidak ada waktu. Dia menyangkal teori Aristoteles, bahwa sumber gerak adalah kekuatan yang tidak terlihat, yaitu Tuhan. Bagi Ibn Si>na> hukum alam sudah diciptakan untuk mengatur dirinya sendiri.
Karya-karya Ibn Si>na> “banyak dibaca, dicatat dan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Barat. Tulisannya memengaruhi seluruh Eropa, walaupun ia sendiri tidak pernah beranjak dari kesunyian Asia tengah, sampai ajal menjemputnnya.[20]
Ibn Si>na> adalah filosof dan dokter dari Persia. Barangkali dialah filosof dan dokter di dunia Isla>m yang paling terkenal. Sumbangannya untuk dunia Barat bisa dirasakan sampai saat ini. Pemikiran-pemikirannya banyak dimanfaatkan bukan cuma orang-orang Isla>m sendiri. Tapi juga non Muslim. Orang pertama yang mengetahui pentingnya upaya Ibn Si>na>, dan kemungkinan pemanfaatan pemikiran teologisnya untuk orang Kristen ialah pendeta Jerman, Alberta yang Agung (w. 1280 M) dan muridnya sendiri, Thomas Aquinas yang digelari bapak teologi dan peletak dasar ilmu ketuhanan di Katolik.[21] Hal ini juga menjadi salah satu bukti bahwa keahlian Ibn Si>na> tidak hanya pada bidang kedokteran saja. Ia juga menekuni disiplin keilmuan yang lain. Dalam berbagai bidang yang ia geluti itu, ia berkarya. Sehingga, karya-karyanya meliputi banyak disiplin ilmu pengetahuan.
Hanya saja, Ibn Si>na>, mungkin lebih dikenal dengan keahliannya dibidang kedokteran dan filsafat. Walaupun ia adalah seorang pengarang besar, ia tetap dikenal sebagai tokoh dalam bidang kedokteran dan filsafat. Kondisi ini, muncul sebagai implikasi langsung dari karya-karyanya yang banyak dipakai generasi selanjutnya adalah bidang kedokteran, yaitu terutama kita al-Qa>nu>n fi> al-Tibb dan al-Syifa>.[22] Dalam karya dibidang kedokteran, memang masih dipengaruhi oleh pemikiran filsafat. Pada saat itu, pemikiran filsafat, memang lagi berpengaruh besar terhadap pola pikir umat manusia (orang-orang Arab). Sehingga, bukan sesuatu yang mustahil ia pada akhirnya juga dikenal sebagai ahli filsafat.
Dalam bukunya al-Qa>nu>n, ia menyediakan beberapa bab mengenai farmasi dan deskripsi yang berkaitan mengenai tanaman-tanaman yang merupakan bahan obat-obatan, cara membuatnya menjadi obat-obatan dan penggunaannya untuk pengobatan medis. Demikian juga dalam bukunya al-Syifa> ia menyediakan bagian yang cukup besar untuk kajian-kajian botani dan zoologi, dimana ia menjelaskan tentang berbagai macam tanaman, cara mereka menyerap makanannya, dan penyebaran makanan tersebut ke bagian-bagiannya. Ibn Si>na> juga membahas pengaruh lingkungan terhadap tanaman, dan cara tanaman membiak dan hidup. Ia juga menjelaskan tentang ratusan hewan, burung-burung, binatang-binatang laut dan darat, tentang tulang rawan, tulang belulang, urat darah halus, urat darah besar, saraf, jaringan, urat daging, dan sistem tubuh, sistem pencernaan, peredaran darah reproduksi, keringat, dan sistem otot.[23]
Ilmu yang telah diwariskan Ibn Si>na> dalam karya-karyanya telah memberikan keuntungan sangat besar bagi kemajuan peradaban Barat. Kitab al-Qa>nu>n dan al-Syifa> itu menjadi referensi utama mengembangan ilmu kedokteran. Bahkan sampai abad modern pun mereka tetap berpedoman pada kitab tersebut. Sehingga kitab al-Qa>nu>n itu, di Barat dikenal dengan sebutan Canon.
Kontribusi umat Isla>m secara umum dan Ibn Si>na> secara khusus dengan ilmu kedokterannya bisa dilihat pada akar sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Abba>siyah ilmu pengetahuan dunia Isla>m berkembang sangat pesat. Situasi ini didukung oleh kebijakan pemerintahan pada saat itu dalam memberikan kebebasan kepada para ilmuwan untuk mengembangkan potensi keilmuan masing-masing. Keberhasilan itu terus menyebar menerangi kegelapan jagad raya. Hingga akhirnya mulailah peradaban Isla>m menyinari negeri-negeri itu dari langit Andalusia, disusul kemudian oleh munculnya sinar pengetahuan Isla>m dari arah Timur.
3. Sebuah Ironi; Pemikiran Yang Terlupakan
Sekalipun Isla>m merupakan agama yang muncul terakhir, tapi ia telah membangun peradaban lebih unggul daripada agama lain. Perkembangan keilmuan berkembang pesat dikalangan umat Isla>m dengan penuh. Semangat untuk meneliti dan menggali kandungan al-Qur’a>n menjadi modal utama pada masa awal pekembangan agama ini seperti filsafat, hukum, seni, arsitektur, estetika dan sebagainya. Keberhasilan tersebut telah menyumbangkan keilmuan yang tidak sedikit terhadap perkembangan peradaban selanjutnya. Contoh kecil dari hal itu adalah sebagaimana diungkapkan Yacoub Zaki, nama Universitas yang dipakai oleh generasi sekarang, adalah berasal dari bahasa Arab Madrasah Kuliyah yang berarti tempat belajar.[24] Ini adalah salah satu bukti dari pengaruh Arab terhadap dunia termasuk di dalamnya bidang pendidikan.
Salah satu keberhasilan perkembangan ilmu pengetahuan Isla>m yang sekaligus menyumbangkan kepada dunia secara keseluruhan adalah ekspansi Isla>m yang dilakukan pada abad 7 dan 8 Masehi. Umat Isla>m pada saat itu mulai menguasai propinsi Byzantium di Syria, Tanah Suci, Mesir dan kearah barat di Afrika Selatan, Spanyol dan Sisilia. Kegiatan ekspansi itu telah membawa pengaruh terhadap perkembangan keilmuan Isla>m, karena dengan kondisi itu, orang-orang Eropa mengenal dan belajar ilmu pengetahuan. Sehingga pada abad ke-11 dan 13 kristen membalas dendam dengan balik menyerang yang diistilahkan dengan perang salib.[25] Perang ini tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan agama. Dibalik itu ada semangat pencarian keilmuan, yaitu merebut ilmu pengetahuan yang dihasilkan umat Isla>m.
Dengan kemengan diraih mereka dalam peperangan itu mengakibatkan perpindahan pusat ilmu pengetahuan di Timur Tengah ke daerah Eropa. Mereka banyak membawa karya-karya orang Isla>m saat itu. Sampai sekarang unversitas Eropa masih mempertahankan bahasa Arab[26] sebagai bahasa asli karya tersebut. Termasuk di dalamnya adalah karya Ibn Si>na>. Sehingga gagasan Ibn Si>na> tentang intention diambil alih oleh Albertus Magnus.[27] Hanya saja, pengambilan seperti itu tak pernah diakui oleh para pemikir Eropa. Bahkan mereka menganggap bahwa konsep demikian asli dari pemikiran mereka. Sebuah plagiasi yang dilegalkan.
Hegemoni pengetahuan bangsa Eropa terus diupayakan untuk tetap bertahan sampai masa modern ini. Segala teori pengetahuan seringkali disebutkan sebagai bersumber dari pemikir Eropa. Tidak satupun yang diambil dari pemikiran orang Isla>m. hal ini bisa dilihat pada teori-teori pengetahuan yang berkembang saat ini yang banyak menggunakan kerangka teori demikian sebagai justifikasi sebuah pemikiran. Sebaliknya, jika sebuah sebuah karya tidak menggunakan teori tertentu yang berasal dari pemikir Eropa dianggap tidak memenuhi standar Ilmiah. Inilah salah satu bentuk hegemoni mereka. Kondisi ini diperparah mulai sekitar abad ke-13 ketika Isla>m mulai lemah, sedangkan Eropa mulai ada tanda-tanda kebangkitan hingga sampai pada masa yang disebut dengan Renaissans.[28] Sebuah masa yang menandai kebangkitan bangsa Eropa menuju kemajuan sebagaimana yang terlihat sampai sekarang.
Kebangkitan Eropa itu, diakui atau tidak, merupakan hasil dari perjuangan mereka untuk terus menggali khazanah keilmuan yang dimiliki umat Isla>m. Apalagi setelah peristiwa perang salib dengan posisi sebagai pemenang telah memberikan peluang bagi Eropa untuk membawa segala sesuatu yang diperlukan untuk kemajuan peradaban mereka terutama bidang ilmu pengetahuan yang merupakan hasil karya umat Isla>m.
Tetapi hal ini tidak pernah diakui oleh mereka (bangsa Eropa). Mereka tetap memandang sebagai pihak inferior terhadap umat Isla>m. Terjemahan yang di lakukan Eropa dulu tak mau diakui sebagai sebuah hutang budi. Padahal tanpa terjemahan dari karya muslim, mungkin tidak akan ada Renaissans di Eropa.[29] Ibn Si>na> adalah salah satu kontributor terbesar dalam hal ini dengan karya-karyanya yang sangat dihargai oleh orang Eropa modern.
Hanya saja yang diambil orang-orang Eropa hanya ilmu pengetahuan dari karya Ibn Si>na>, sedangkan semangat keimanan (tauhi>d) yang menyatu secara integral dalam karya-karya itu tidak diambil. Penyaringan seperti ini berimplikasi pada keringnya jiwa mereka dalam bidang spiritual.[30] Semangat keilmuan yang tidak dilandasi dengan semangat spiritualitas ini membawa pada dekadensi moral dikalangan manusia modern seperti yang terjadi sekarang. Pemikiran Ibn Si>na> yang telah menjadi referensi utama dalam bidang kesehatan, optik dan sebagainya tidak diakui sebagai sebuah rujukan yang telah mengantarkan bangsa Eropa pada tingkat peradaban tinggi. Keberhasilan mencapai tingginya tingkat peradaban itu dipandang muncul secara tiba-tiba dari diri mereka sendiri. Tak ada perasaan hutang budi terhadap Ibn Si>na> dalam hal ilmu kedokteran atau kesehatan.
Perilaku ini merupakan bentuk pengkhianatan besar bangsa Eropa terhadap keilmuan orang-orang Isla>m. orang-orang Eropa berupaya menghilangkan jejak-jejak warisan apapun yang berbau Arab-Isla>m. Kita bisa melihat bagaimana upaya itu diwujudkan di Prancis dengan munculnya larangan memakai jilbab,[31] misalnya, atau isu-isu terorisme dengan mengidentikkannya pada orang-orang Muslim. Isla>m digambarkan layaknya agama yang menakutkan dan mengancam kedamaian dunia. Sebuah phobia terhadap Isla>m yang terlalu dan dibuat-buat. Kecurigaan yang tak beralasan.
Dilain pihak, perilaku demikian adalah sebagai upaya membendung kebangkitan kesadaran bahwa Isla>m adalah memberikan kontribusi besar terhadap peradaban dunia. Munculnya kesadaran itulah yang membuat orang-orang Eropa memakai strategi dengan mengkambing hitamkan Isla>m. Akhirnya, sebagai akibatnya, Ibn Si>na> tidak lagi menempati posisi penting sebagai tokoh sentral dan rujukan keilmuan dalam bidang kedokteran. Kehadiran karya-karyanya dianggap hilang sekalipun masih diperlukan.
Dan lebih ironis lagi, kondisi ini justru diperparah oleh kalangan umat Isla>m sendiri. Tradisi keilmuan para pendahulu tidak diteruskan oleh generasi selanjutnya.[32] Sehingga perkembangan keilmuan menjadi stagnan. Para tokoh muslim yang banyak berkarya dengan kebebasan berpikir mereka yang terutama setelah dipengaruhi filsafat Yunani dianggap sebagai sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Akhirnya hasil pemikiran-pemikirannya tidak dipakai oleh generasi selanjutnya.
Respon negatif kebebasan berpikir dari kalangan Isla>m sendiri bisa dilihat pada kritik yang dilakukan al-Ghazali terhadap pemikiran filsafat Ibn Rusyd.[33] Banyak kalangan yang memandang kritik al-Ghaza>li> itu merupakan awal stagnasi perkembangan pemikiran. Apalagi kemudian disertai dengan karyanya yang lain yang berjudul Ihya>’ Ulu>m al-Di>n. Hal ini kemudian berakibat juga pada pemikiran-pemikiran lainnya termasuk Ibn Si>na>. Sehingga ilmu kedokteran kurang, atau bahkan sama sekali, tidak berkembang di dunia Isla>m.

C. KESIMPULAN
Ibn Si>na> adalah tokoh Muslim yang terlahir di daerah Persia. Ia menguasai banyak disiplin ilmu pengetahuan. Karya-karyanya memberikan kontribusi terhadap dunia Eropa. Karyanya terutama kitab al-Qa>nu>n fi> al-Tibb dan al-Syifa> yang membahas tentang pengobatan telah dijadikan referensi utama oleh dunia Barat selama beberapa abad lamanya.
Disamping itu, masih banyak karya-karya Ibn Si>na> yang dikaji orang Eropa dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Tetapi, karya tentang pengobatan itulah yang lebih berpengaruh. Hanya saja, sebagai bentuk kebejatan dunia modern, pemikiran itu tidak pernah menjadi sesuatu dihargai sebagai sebuah karya Ibn Si>na>. Sikap acuh tak acuh terhadap pemikiran Ibn Si>na> itu bisa tidak hanya oleh orang-orang Eropa sendiri, tapi juga dari kalangan Isla>m. Terutama dari kalangan mereka yang tidak sepakat dengan pemikiran filsafat.





















DAFTAR PUSTAKA


Abduh, Muhammad, Isla>m, Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat Madani, ter. Haris Fadillah, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2005
Afnan, Suheil M., Avicenna; His Life and Works, George Allen and Unwin LTD, London, 1958
Ahmad, Jami>l, Seratus Muslim Terkemuka, ter. Tim Penerjemah Pustaka Firdaus, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994
Ahmed, M. Khalafalla>h (editor), Sumbangan Isla>m kepada Ilmu dan Kebudayaan, Komisi Nasional, Mesir
Al-Siba>’i>, Musthafa> Husni, DR., Khazanah Peradaban Isla>m, ter. Abdullah Zaky, Pustaka Setia, Bandung, 2002
Amin, Husayn Ahmad, Seratus Tokoh dalam Sejarah Isla>m, ter. Bahruddin Fannani, Rosdakarya, Bandung, 1999
Armanto, Nina M., et.al., (editor), Ensiklopedi Isla>m, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005
Bosworth, M. C.E., The Islamic Dynasties, Edinburgh University Press, 1967
Esposito, John L., “Benturan Peradaban” dalam Media dan Citra Muslim dan Spiritualitas Untuk Berperang Menuju Spiritualitas Untuk Berdialog, Jalasutra, Yogyakarta, 2005
Glasse, Cyril, Ensiklopedi Isla>m, ter. Ghufron A. Mas’adi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999
Hamdi>, Ahmad Zainul, Tujuh Filsuf Muslim, LKiS, Yogyakarta, 2004
Haque, M. Atiqul, Wajah Peradaban; Menelusuri Jejak Pribadi-pribadi Besar Isla>m, ter. Budi Rahmat, et.al., Zaman, Bandung, 1998
Hourani, Albert, Isla>m dalam Pandangan Eropa, ter. Ima>m Baihaqi>, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998
Kertanegara, Mulyadhi, “Renaissans Ketiga: Membaca Warisan Tradisi Intelektual Masa Isla>m” dalam Isla>m dalam Pengembangan Disiplin Ilmu, LPPI UMY, Yogyakarta, 2003
Madjid, Nurcholis, Isla>m Kemodernan dan Keindonesiaan, Mizan, Bandung, 1998
Munoz, Gema Martin, “Isla>m dan Barat” dalam John L. Esposito, et.al., Dialektika Peradaban, terj. Ahmad Syahidah, Qalam, Yogyakarta, 2002
Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Isla>m atas Dunia Intelektual Barat, Risalah Gusti, Surabaya, 1996
Nasution, Hasyimsyah, DR., MA., Filsafat Isla>m, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1999
Turner, Howard R., Sains Isla>m yang Mengagumkan, Sebuah Catatan Terhadap Abad Pertengahan, ter. Zulfahmi Andre, Penerbit Nuansa, Bandung, 2004
Verdiansyah, Veri, et.al, Isla>m dan Barat; Membangun Teologi Dialog, LSIP, Jakarta, 2004
Watt, William Montgomery, Prof., Fundamentalisme Isla>m dan Modernitas, ter.Taufik Adnan Amal, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 1997
Zaki, Yacoub, Pro., “Isla>m dan Peradaban” dalam Berpaling Kepada Isla>m, Rosdakarya, Bandung, 1997


[1] Gema Martin Munoz, “Isla>m dan Barat” dalam John L. Esposito, et.al., Dialektika Peradaban, terj. Ahmad Syahidah, (Yogyakarta; Qalam, 2002), 5.
[2] Veri Verdiansyah, et.al, Isla>m dan Barat; Membangun Teologi Dialog, (Jakarta; LSIP, 2004), 91.
[3] Howard R. Turner, Sains Isla>m yang Mengagumkan, Sebuah Catatan Terhadap Abad Pertengahan, ter. Zulfahmi Andre, (Bandung; Penerbit Nuansa, 2004), 147.
[4] Ibid., 208.
[5] DR. Hasyimsyah Nasution, MA., Filsafat Isla>m, (Jakarta; Gaya Media Pratama, 1999), 66. Lihat juga Cyril Glasse, Ensiklopedi Isla>m, ter. Ghufron A. Mas’adi, (Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 1999), 155.
[6] Ahmad Zainul Hamdi>, Tujuh Filsuf Muslim, (Yogyakarta; LKiS, 2004), 89. lihat juga Nina M. Armanto, et.al., (editor), Ensiklopedi Isla>m, (Jakarta; PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), 103.
[7] M. Atiqul Haque, Wajah Peradaban; Menelusuri Jejak Pribadi-pribadi Besar Isla>m, ter. Budi Rahmat, et.al., (Bandung; Zaman, 1998), 67.
[8] Dinasti Samaniyah adalah salah satu dinasti kecil Isla>m yang didirikan oleh Saman Khuda di Transoxiana. Ia berdiri pada tahun 204-395 H./819-1005 M. C.E. Bosworth, The Islamic Dynasties, (Edinburgh University Press, 1967), 101.
[9] Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, ter. Tim Penerjemah Pustaka Firdaus, (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1994), 140.
[10] Hamdi, Tujuh Filsuf ………., 90.
[11] Jamil Ahmad, Seratus Muslim ……………., 141.
[12] Ibid., 141.
[13] Judu-judul dari kitab al-Syifa> ini terdiri dari tiga macam; yaitu: al-Syifa> al-Riya>diya>t, al-Syifa> al-Ila>hiya>t, dan al-Syifa> al-Thabi>’iya>t.
[14] Jamil Ahmad, Seratus Muslim ……………., 142. Untuk lebih jelasnya tentang karya-karya Ibn Si>na> baca juga Nina M. Armanto, et.al., (editor), Ensiklopedi Isla>m, 103.
[15] DR. Musthafa> Husni al-Siba>’i>, Khazanah Peradaban Isla>m, ter. Abdullah Zaky, (Bandung; Pustaka Setia, 2002), 41.
[16] M. Khalafallah Ahmed (editor), Sumbangan Isla>m kepada Ilmu dan Kebudayaan, (Mesir, Komisi Nasional, tt.), 228.
[17] Musthafa Husni, Khazanah …………., 42.
[18] Ibid., 43.
[19] Ibn Si>na> lebih dikenal oleh orang-orang barat. Pemikiran-pemikirannya banyak mempengaruhi ilmu dan peradaban barat yang dicapai saat ini. Baik dalam bidang kedokteran atau dalam bidang lainnya. Sehingga, ia dianggap setingkat dengan Aristoteles, Euclides dan Ptolemeus. Sedangkan di Timur sendiri, ia hanya dikenal sebagai filosof yang berusaha menggabungkan antara filsafat Plato, Aristoteles dan Neoplatonis. Lihat, Cyril, Ensiklopedi Isla>m, 155.
[20] Jamil Ahmad, Seratus Muslim ……………., 144-145.
[21] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Isla>m, ter. Bahruddin Fannani, (Bandung; Rosdakarya, 1999), 157-159.
[22] Suheil M. Afnan, Avicenna; His Life and Works, (London; George Allen and Unwin LTD, 1958), 68.
[23] Berdasarkan apa yang telah penulis lihat dalam kitab al-Qa>nu>n fi> al-Tibb isinya sangat lengkap mengenai berbagai hal dalam bidang pengobatan. Disamping menerangkan macam-macam obat berbagai penyakit, disana juga dijelaskan bagaimana tata cara seorang dokter mengobati pasiennya. Lihat M. Khalafallah Ahmad, Sumbangan Isla>m ………., 196.
[24] Pro. Yacoub Zaki, “Isla>m dan Peradaban” dalam Berpaling Kepada Isla>m, (Bandung; Rosdakarya, 1997), 215.
[25] Albert Hourani, Isla>m dalam Pandangan Eropa, ter. Ima>m Baihaqi>, (Yogyakarta; Pustaka Pelaja, 1998), 9.
[26] Ibid., 38.
[27] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Isla>m atas Dunia Intelektual Barat, (Surabaya; Risalah Gusti, 1996), 235.
[28] Ibid., 250.
[29] Mulyadhi Kertanegara, “Renaissans Ketiga: Membaca Warisan Tradisi Intelektual Masa Isla>m” dalam Islam dalam Pengembangan Disiplin Ilmu, (Yogyakarta; LPPI UMY, 2003), 2.
[30] Nurcholis Madjid, Isla>m Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung; Mizan, 1998), 275-276.
[31] John L. Esposito, “Benturan Peradaban” dalam Media dan Citra Muslim dan Spiritualitas Untuk Berperang Menuju Spiritualitas Untuk Berdialog, (Yogyakarta; Jalasutra, 2005), 7.
[32] Muhammad Abduh, Isla>m, Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat Madani, ter. Haris Fadillah, (Jakarta; Raja Grafindo, 2005), 202.
[33] Diantara karya al-Ghaza>li> yang mengkritik filsafat itu adalah Maqa>shid al-Fala>sifah dan Taha>fut al-Fala>sifah. Lihat Prof. William Montgomery Watt, Fundamentalisme Isla>m dan Modernitas, ter.Taufik Adnan Amal, (Jakarta; PT. Raja Grafindo, 1997), 63.